Cerpen: Senja Itu, Kulihat Ia Dibawa Pergi

Aku tak ingin menulis cerita ini karena kurasa cerita ini tak patut dibagi. Alasannya karena aku takut cerita ini mencemari nama Danar, teman masa kecilku yang hilang di suatu senja dan tak pernah kembali.

Danar adalah salah satu dari tiga teman dekatku ketika kecil, selain Aria dan Panji. Alasan pertemanan kami cukup membosankan: karena terpaksa. Letak rumah kami berempat di komplek perumahan yang berdempetan membuat kami sering bertemu ketika berangkat sekolah dan mau tak mau kamipun berteman. Dari usia, kamipun sama—sama-sama anak sekolah dasar yang ingusan. Danar namun perawakannya terlihat lebih tua dari kami bertiga—dan ia mudah sekali dikerjai. Ia selalu jadi objek candaan kelompok kami. Suatu waktu Panji, yang paling iseng diantara kami berempat, berkomplot denganku untuk mengerjainya dengan mengatakan bahwa ada bu guru yang datang ke rumahnya untuk bertemu dengan ibunya karena Danar tertidur ketika kelas berlangsung. Kami tertawa geli ketika melihat muka tua panikannya itu terbelalak dan langsung lari terbirit-birit ke rumahnya yang letaknya berada di ujung jalan, tepat sebelum belokan menuju jalan buntu yang diakhiri dengan tembok beton.

Continue reading “Cerpen: Senja Itu, Kulihat Ia Dibawa Pergi”

Advertisements