Cerpen: Senja Itu, Kulihat Ia Dibawa Pergi

Aku tak ingin menulis cerita ini karena kurasa cerita ini tak patut dibagi. Alasannya karena aku takut cerita ini mencemari nama Danar, teman masa kecilku yang hilang di suatu senja dan tak pernah kembali.

Danar adalah salah satu dari tiga teman dekatku ketika kecil, selain Aria dan Panji. Alasan pertemanan kami cukup membosankan: karena terpaksa. Letak rumah kami berempat di komplek perumahan yang berdempetan membuat kami sering bertemu ketika berangkat sekolah dan mau tak mau kamipun berteman. Dari usia, kamipun sama—sama-sama anak sekolah dasar yang ingusan. Danar namun perawakannya terlihat lebih tua dari kami bertiga—dan ia mudah sekali dikerjai. Ia selalu jadi objek candaan kelompok kami. Suatu waktu Panji, yang paling iseng diantara kami berempat, berkomplot denganku untuk mengerjainya dengan mengatakan bahwa ada bu guru yang datang ke rumahnya untuk bertemu dengan ibunya karena Danar tertidur ketika kelas berlangsung. Kami tertawa geli ketika melihat muka tua panikannya itu terbelalak dan langsung lari terbirit-birit ke rumahnya yang letaknya berada di ujung jalan, tepat sebelum belokan menuju jalan buntu yang diakhiri dengan tembok beton.


Sore itu waktu bermain kami sedikit terlambat; meski masih terang, langit sudah mulai menunjukkan sedikit sisi gelapnya. “Nggak takut kesorean, nih, mainnya?” tanya Danar, yang muka tuanya langsung kami olok-olok. “Penakut!” seruku, yang disambut dengan tawa dari Aria dan Panji. Tak ingin diolok-olok lebih lanjut, akhirnya Danar menyerah dan bergabung di permainan yang kami pilih sore itu: petak umpet. Setelah hompimpa yang memutuskan bahwa Panji adalah ‘kucing’-nya, Panji langsung menuju ke tiang lampu jalan di depan rumahnya untuk menghitung. Aria bersembunyi di balik sebuah mobil dekat rumah Panji, sedangkan aku dan Danar berlari ke arah yang sama: ke arah rumah Danar dan jalan buntu. Aku memilih bersembunyi di balik tempat sampah kosong di dekat rumah Danar.

Tak kusadari sayup-sayup adzan Magrib sudah berkumandang, langit cerah sore yang kebiruan sudah berubah menjadi kelabu senja. Kuperhatikan lampu-lampu jalan yang mulai berkedip menyala. Kulihat lampu teras di rumah Danar ikut menyala menerangi jalan, menggantikan tugas dari satu-satunya lampu jalan yang rusak sana.

Di saat yang sama, aku melihat sesuatu yang lain: Danar, di belokan menuju jalan buntu yang tak diterangi lampu jalan. “Aneh,” pikirku. Alih-alih berusaha bersembunyi, ia berdiri tegak seperti sedang mengikuti upacara bendera. Kepalanya menoleh ke atas… ke arah sosok yang tak kusadari ada sedari tadi. Gelap menghalangi pandanganku, namun sekilas sosok itu berperawakan mirip dengan ibunya Danar; perempuan dengan rambut terurai panjang menutupi badan tak terlalu tinggi. Saat ia menoleh ke arahkulah aku sadar bahwa perkiraanku salah.

Rambutnya yang hitam terurai berantakan seperti sapu ijuk yang sudah kusut dan usang, melayang-layang meski saat itu tak ada angin yang bertiup, memperlihatkan wajahnya… yang hitam bengkak, koyak, bertaring. Tubuhnya telanjang, gelap dan kotor dengan payudara yang menggantung panjang seperti dua bandul tak bernyawa, ke aspal hitam di bawah. Rasa takut menjalar ke seluruh tubuhku yang saat itu menjadi lemas, tak berdaya untuk berlari atau berteriak.

Namun, rasa takut tidak terlihat di diri Danar. Ia masih berdiri tegar mematung di tempat yang sama. Di remang-remang, kulihat bibirnya bergerak-gerak seakan-akan sedang berbincang dengan sosok itu, sesekali menganggukkan kepala, seperti anak patuh, pada sosok perempuan itu.

Lalu Danar menoleh kepadaku. Ia tersenyum dan melambaikan satu tangannya padaku sebelum tangan yang sama itu menggenggam tangan sang sosok. Kulihat ia berbalik badan dan mulai berjalan. Alih-alih berjalan lurus ke rumahnya, mereka berjalan ke arah sebaliknya. Ke arah tembok beton yang mengakhiri jalan buntu itu.

Senja itu, petak umpet yang awalnya hanya permainan yang dimainkan sekelompok anak kecil berubah menjadi pencarian melibatkan para orang dewasa. Namun pencarian itu tak pernah membuahkan hasil. Siapapun—atau apapun—yang membawanya pergi pada senja hari itu, tak pernah membawanya lagi pulang.


Beberapa bulan setelah kehilangan Danar, kami tak pernah lagi bermain hingga senja. Komplek kami menjadi hening seakan terus diselimuti rasa duka, hanya sesekali diisi oleh lolongan anjing atau suara mesin mobil ayah Panji yang baru pulang dari kantornya.

Rumah Danar sekarang jauh berbeda. Rumah yang terletak di ujung jalan itu sepi, kosong. Gelap setelah ditinggalkan oleh orangtua Danar tak lama setelah anak mereka hilang. Ada papan plastik bertuliskan “DIJUAL. HUB. DIANA.” di pagar depannya. Sudah hampir setahun papan tersebut tak pernah dicabut, sekarang sudah menguning seperti rumput yang menjalar di teras rumah sepi itu.

Suatu hari kemudian, aku, Aria, dan Panji mulai kembali bermain bola di jalan rumah. Aria menendang bolanya terlalu keras dan melambungkannya jauh ke ujung jalan. Ke rumah Danar. Mereka berdua memandangku—aku tahu maksud mereka. Segera aku berlari kecil ke arah rumah di ujung jalan untuk mengambil bola itu. Sambil memegang bola dan berjalan balik menuju kedua temanku, kulirik sebentar bekas rumah Danar yang sekarang sudah kosong itu.

Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, namun aku yakin aku melihat Danar sedang memandang keluar dari dalam rumah melalui salah satu jendela di rumah yang gelap itu. Di sebelahnya berdiri sesosok wanita berambut seperti sapu ijuk usang. Badannya hitam, payudara busuk menggantung seperti bandul tak bernyawa, ke lantai di bawah. Dan mereka tersenyum.


Catatan penulis: Saya menulis cerpen “konyol” ini untuk sebuah kontes Creepypasta yang sepertinya dibatalkan tanpa pemberitahuan. Jadi daripada mubazir, saya publikasikan saja di sini untuk mengisi konten blog ini yang sudah lama tak ditambah.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s