Short Story: Sólin the Yellow Desk Lamp

1409324857-91114200

Note: some random story I wrote at 750words.com back in 2012. I thought it hilariously bad so I post it here for laughter’s sake.

This is a story of a yellow desk lamp. This yellow desk lamp is a very small, just barely the size of a young cat. The head of the lamp is the heaviest part of its body, yet it is supported by its strong steel “neck” that connects the head with the leg. As a matter of fact, it isn’t the leg at all, not a bit. It is just a small plate made of steel with blinding yellow hue matching the color of the head that not only functions as the container for all things technical for it, it’s also the main weight balancer; the lamp wouldn’t be able to stand so straight, so majestically without it.

The name of the yellow desk lamp is Sólin. Sólin is as alive, as lively as humans are so it is indecent for us if we refer to Sólin as “it”. Sólin is male desk lamp so we will refer to Sólin as “him”.

Continue reading “Short Story: Sólin the Yellow Desk Lamp”

Cerpen: Senja Itu, Kulihat Ia Dibawa Pergi

Aku tak ingin menulis cerita ini karena kurasa cerita ini tak patut dibagi. Alasannya karena aku takut cerita ini mencemari nama Danar, teman masa kecilku yang hilang di suatu senja dan tak pernah kembali.

Danar adalah salah satu dari tiga teman dekatku ketika kecil, selain Aria dan Panji. Alasan pertemanan kami cukup membosankan: karena terpaksa. Letak rumah kami berempat di komplek perumahan yang berdempetan membuat kami sering bertemu ketika berangkat sekolah dan mau tak mau kamipun berteman. Dari usia, kamipun sama—sama-sama anak sekolah dasar yang ingusan. Danar namun perawakannya terlihat lebih tua dari kami bertiga—dan ia mudah sekali dikerjai. Ia selalu jadi objek candaan kelompok kami. Suatu waktu Panji, yang paling iseng diantara kami berempat, berkomplot denganku untuk mengerjainya dengan mengatakan bahwa ada bu guru yang datang ke rumahnya untuk bertemu dengan ibunya karena Danar tertidur ketika kelas berlangsung. Kami tertawa geli ketika melihat muka tua panikannya itu terbelalak dan langsung lari terbirit-birit ke rumahnya yang letaknya berada di ujung jalan, tepat sebelum belokan menuju jalan buntu yang diakhiri dengan tembok beton.

Continue reading “Cerpen: Senja Itu, Kulihat Ia Dibawa Pergi”